8. Upacara Jatukraman
Upacara Jatukraman merupakan salah satu upacara adat di desa Sikemplong, kecamatan Plantungan, kabupaten Kendal. Upacara yang dilaksanakan pada bulan sura atau sasi sura ini merupakan salah satu upacara adat yang masih ada sampai sekarang di desa ini.
Sejarah singkat upacara Jatukraman
Plantungan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di lereng gunung Perahu, di daerah ini masih mempercayai mitos-mitos yang ada sejak jaman dahulu salah satunya ialah mitos mandi kembang di kali Pengantin. Penduduk mempercayai bahwa upacara Jatukraman merupakan upacara dimana seorang perempuan yang belum mendapatkan pasangannya dan sudah jenuh mencari tetapi belum juga mendapatkan jodoh maka dengan mandi kembang di sungai tersebut kelak akan menemukan jodohnya. Karena sudah banyak orang-orang yang membuktikan, maka dari hanya sekadar mitos perlahan-lahan berubah menjadi salah satu adat di desa ini.
Tata cara upacara Jatukraman
Ketika sasi sura di tengah malam (jam 00.00) malam jum’at kliwon, diadakanlah upacara Jatukraman dimana seorang perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut mandi di sungai pengantin bersama juru kunci sungai tersebut.
Syarat-syaratnya:
Seorang perempuan tersebut harus sudah berpuasa selama 40 hari sebelum menjalankan ritual mandi di kali pengantin,
Memakai jarik ketika proses mandi tersebut,
Menyiapkan kembang tujuh rupa (berfungsi agar membuat wangi perempuan yang belum menemukan jodohnya tersebut,
Menyiapkan dupa atau sesaji guna diletakkan di pinggir sungai (berfungsi agar upacara yang dilakukan pada malam itu terasa rumesep)
Ketika upacara Jatukraman tersebut selesai, laki-laki siapa saja yang mendekati adalah merupakan jodoh yang dicari selama ini.
Tata cara:
Perempuan yang belum menemukan jodoh tersebut di iring dari rumah sesepuh desa menuju kali pengantin mengenakan kebaya lengkap,
Sesampainya di kali pengantin perempuan mengganti pakaian kebaya dengan hanya mengenakan jarik (seperti wanita jaman dahulu ketika mandi (kembenan)),
Membaca doa yang akan dituntun oleh sesepuh desa atau juru kunci kali pengantin,
Mengambil air sungai tersebut kemudian dicampurkan dengan kembang tujuh rupa kemudian disiramkan di seluruh tubuh, tahap ini tidak dilakukan sendiri tetapi oleh juru kunci (mandi disini hanya sebagai syarat guna menghilangkan kotoran yang ada didalam diri yang berakibat sulit menemukan jodoh),
Pembacaan doa oleh juru kunci,
Setelah selesai perempuan tersebut diiring kembali menuju rumah juru kunci guna istirahat.
Upacara ini tergolong upacara yang jarang sekali dilakukan, hanya ketika ada perempuan yang minta pertolongan guna mencarikan jodoh. Dan diharapkan dengan upacara ini perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut segera mendapatkan jodoh. Uniknya setelah beberapa minggu upacara berlangsung, perempuan tersebut langsung menemukan jodohnya. Hal ini dikarenakan kepercayaan yang kuat yang mengalir pada diri perempuan tersebut dan masyarakat
sug_rwuh
Tampilkan postingan dengan label folklore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label folklore. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 November 2010
Senin, 14 Juni 2010
WINGKO BABAD

Wingko babad, dari namanya orang akan segera berfikir ini adalah makanan khas dari babad, kota kecil di Jawa Timur. Awalnya seorang wanita Tionghoa kelahiran Tuban bernama Loe Lan Hwa bersama suaminya The Ek Tjong alias D.Mulyono beserta kedua anaknya mengungsi dari Kota Babad ke Semarang. Sejak kepindahannya ke Jawa Tengah menjelang tahun 1946, mulailah dicobanya untuk memperkenalkan penganan resep keluarganya itu di Semarang.
Merekalah cikal bakal pembuat wingko babad di Semarang (Wingko Babad cap Kereta Api) yang akhirnya sampai saat ini menjadi salah satu makanan khas Semarang.
Berbeda dengan wingko yang ada di kota Babad, wingko yang diproduksi dan dijual di Semarang dibuat dalam ukuran kecil, karena dirasa lebih praktis “cukup untuk sekali santap”. Demi mempertahankan rasa dan kualitasnya, mutu bahan baku mendapat perhatian khusus. Dan agar aman dan sehat untuk dikonsumsi, maka diputuskan untuk tidak menggunakan zat pengawet, zat pewarna, gula buatan, maupun penguat rasa (essence).
Saat ini, wingko tersedia dalam berbagai macam rasa. Antara lain rasa coklat, pisang, durian, nangka, dll.
BAHAN-BAHAN:
Tepung Ketan 125 g
Garam halus ½ sdt
Gula Pasir 100 g
Vanili bubuk ¼ sdt
1 Kelapa setengah tua, kupas, parut memanjang
Air hangat 100 ml
CARA MEMBUAT :
1. Campur tepung ketan dengan kelapa parut, garam dan vanili bubuk, aduk rata.
2. Campur air hangat dengan gula pasir, aduk hingga larut.
3. Tuangkan larutan gula kedalam adonan
4. Dicetak, Taruh di loyang alasi dengan daun pisang, masukkan dalam oven selama 10 menit, angkat dan siap disajikan.
Senin, 07 Juni 2010
ciri folklore
Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.
Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).
Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi yakni yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).
Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.
Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).
Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi yakni yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).
Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak)

Ketoprak adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.
ludruk

Ludruk, merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).
takhayul
Di dukuh Gribigan di daerah Demak, ada desa yang apabila pejabat lewat situ, ia akan mati atau paling tidak jabatannya turun. Sama di desa Mijen Banteng mati. Sampai sekarang tidak ada yang berani lewat situ. Namun ada juga yang mengacuhkannya. Akan tetapi warga di desa itu sering memberi sesaji agar tidak ada kejadian buruk.
Di Mutih kulon ada sumur yang dipercaya sakti di dekat Jepara. Dipercaya meyembuhkan sakit penyakit , bisa membantu menambah kekuatan. Banyak masyarakat yang memberikan sesaji juga. Bagi yang kurang percaya kadang mengalami sakit.
Di desa Ngawen tiap mau menanam padi harus nanggap wayang, kalau tidak , ada perempuan yang datang dan hasil panen kurang memuaskan.
Di Karanganyar Demak ada cerita anak muda mudi yang meninggal karena terlindas kereta api ,arwahnya menghantui sekitar tempat itu.
Takhayul atau kepercayaan masyarakat setempat adalah bambu sate. Yaitu bamboo tetapi daunnya berbau sate. Menurut masyarakat setempat, pada waktu dulu ada orang yang menancapkan tusuk sate pada tanah tersebut. Kemudian tusuk sate tersebut tumbuh menjadi pohon bambu yang daunnya berbau sate (prengus).
Di Desa Bejalen Ambarawa, ada takhayul pada saat diadakan Upacara ngekol, yaitu tidak boleh mengambil sesaji apapun yang ada di dalam prosesi upacara sebelum doa dibacakan oleh juru kunci,walaupun sesaji itu nantinya akan diperebutkan. Warga boleh mengambil sesaji itu setelah upacara selesai, karena kalau warga mengambilnya sebelum upacara selesai orang yang mengambil itu akan menjadi gila.
Masyarakat mempercayai sebuah takhayul yang menyebutkan bahwa bila ada tamu yang terlalu lama bertamu dan tidak mau segera pulang, maka dapat dipaksa pergi dengan jalan membawa(secara tersembunyi) sebuah alat ulegan (munthu) dihadapanya. Bila hal itu dilakukan maka tamu tersebut akan pulang dengan sendirinya.
Masyarakat mempercayai bahwa ada hantu yang disebut wewe gombel, yaitu hantu wanita yang suka mengambil pakean dalam yang dijemur dan pada malam hari belum diangkat.
Di kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat mempercayai apabila dipagi hari berbicara kepada orang lain dan membicarakan hal-hal yang bersifat jelek, maka pembicaraan tersebut akan terjadi. Misal; mengeluh tentang pekerjaan yang membuat malas, kelak hari itu pula akan malas terus dan enggan melakukan apa-apa.
Di kecamatan Sukorejo, Kendal, masyarakat sekitar mempunyai pantangan jika tidur di tengah pintu, maka akan di beri mimpi buruk atau didatangi makhluk halus.
Di Kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat percaya jika ada orang yang tidur dengan badan membujur ke utara seperti posisi orang meninggal maka dia akan membujur kaku dan didatangi pocong.
Di Kecamatan Gunungpati, masyarakat disekitar percaya jika ada jago berkokok sebelum pukul dua belas atau wayah sore ada wanita yang hamil sebelum menikah.
Di Lawang Sewu Semarang, orang disekitar percaya kalau mengambil foto di sekitar Lawang Sewu tidak boleh bertiga atau berjumlah ganjil, konon akan digenapi oleh makhluk halus.
Di Mutih kulon ada sumur yang dipercaya sakti di dekat Jepara. Dipercaya meyembuhkan sakit penyakit , bisa membantu menambah kekuatan. Banyak masyarakat yang memberikan sesaji juga. Bagi yang kurang percaya kadang mengalami sakit.
Di desa Ngawen tiap mau menanam padi harus nanggap wayang, kalau tidak , ada perempuan yang datang dan hasil panen kurang memuaskan.
Di Karanganyar Demak ada cerita anak muda mudi yang meninggal karena terlindas kereta api ,arwahnya menghantui sekitar tempat itu.
Takhayul atau kepercayaan masyarakat setempat adalah bambu sate. Yaitu bamboo tetapi daunnya berbau sate. Menurut masyarakat setempat, pada waktu dulu ada orang yang menancapkan tusuk sate pada tanah tersebut. Kemudian tusuk sate tersebut tumbuh menjadi pohon bambu yang daunnya berbau sate (prengus).
Di Desa Bejalen Ambarawa, ada takhayul pada saat diadakan Upacara ngekol, yaitu tidak boleh mengambil sesaji apapun yang ada di dalam prosesi upacara sebelum doa dibacakan oleh juru kunci,walaupun sesaji itu nantinya akan diperebutkan. Warga boleh mengambil sesaji itu setelah upacara selesai, karena kalau warga mengambilnya sebelum upacara selesai orang yang mengambil itu akan menjadi gila.
Masyarakat mempercayai sebuah takhayul yang menyebutkan bahwa bila ada tamu yang terlalu lama bertamu dan tidak mau segera pulang, maka dapat dipaksa pergi dengan jalan membawa(secara tersembunyi) sebuah alat ulegan (munthu) dihadapanya. Bila hal itu dilakukan maka tamu tersebut akan pulang dengan sendirinya.
Masyarakat mempercayai bahwa ada hantu yang disebut wewe gombel, yaitu hantu wanita yang suka mengambil pakean dalam yang dijemur dan pada malam hari belum diangkat.
Di kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat mempercayai apabila dipagi hari berbicara kepada orang lain dan membicarakan hal-hal yang bersifat jelek, maka pembicaraan tersebut akan terjadi. Misal; mengeluh tentang pekerjaan yang membuat malas, kelak hari itu pula akan malas terus dan enggan melakukan apa-apa.
Di kecamatan Sukorejo, Kendal, masyarakat sekitar mempunyai pantangan jika tidur di tengah pintu, maka akan di beri mimpi buruk atau didatangi makhluk halus.
Di Kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat percaya jika ada orang yang tidur dengan badan membujur ke utara seperti posisi orang meninggal maka dia akan membujur kaku dan didatangi pocong.
Di Kecamatan Gunungpati, masyarakat disekitar percaya jika ada jago berkokok sebelum pukul dua belas atau wayah sore ada wanita yang hamil sebelum menikah.
Di Lawang Sewu Semarang, orang disekitar percaya kalau mengambil foto di sekitar Lawang Sewu tidak boleh bertiga atau berjumlah ganjil, konon akan digenapi oleh makhluk halus.
2. Tari Kuda Debog
Tari kuda debog merupakan tarian khas dari daerah Keji, di daerah Ungaran. Dulunya tarian ini merupakan permainan anak-anak setempat. Kerena pada waktu itu orang tua tidak mampu membelikan mainan, sehingga anak-anak mengambil pelepah daun pisang untuk dijadikan kuda-kudaan dan ditarikan. Tarian ini hampir sama dengan tarian kuda lumping. Hanya yang dijadikan kudanya adalah debog (pelepah pisang).
3. Tarian Keprajuritan
Tarian keprajuritan merupakan tarian yang dimainkan oleh para laki-laki dewasa dengan jumlah pemain bebas. Tarian keprajuritan banyak berkembang di Semarang. Di daerah Ambarawa, keprajuritan disebut juga dengan Soreng, sedangkan di daerah Salatiga disebut dengan Reog. Tarian ini menggunakan kostum prajurit keraton. Tari keprajuritan melambangkan kegagahan dan keberanian seorang prajurit yang sedang berlaga. Gerak tariannya diiringi dengan kempul dan gong. Pada saat tari dipentaskan, ada salah seorang penari yang menjadi pemimpin dalam tarian itu yang membawa peluit yang pada saat-saat tertentu akan ditiup. Dengan ditiupnya peluit tersebut menandakan pergantian gerakan. Pada zaman sekarang tarian ini dimainkan semata-mata untuk hiburan. Biasanya dipentaskan saat warga mengadakan hajatan atau peringatan hari-hari tertentu.
Gb. Tarian Keprajuritan
4. Tarian Kuda Blarak
Tarian ini hampir sama dengan tari kuda lumping, tapi yang menjadi ciri khas adalah kuda yang digunakan untuk menari terbuat dari daun kelapa (blarak). Kuda blarak ini hanya ada di desa Bejalen kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Yang memainkan adalah anak laki-laki. Tarian kuda blarak ini tercipta atas ide kepala dinas kebudayaan dan pariwisata setempat untuk menghidupkan kesenian yang ada di desa Bejalen sejak zaman dahulu. Dulunya anak-anak bejalen biasa mengambil daun kelapa atau blarak untuk bermain kuda-kudaan. Daun kelapa yang masih ada pelepahnya dianyam sehingga membentuk seperti kuda kepang, kemudian dimainkan bersama-sama. Dulu saat memainkannya tidak disertai dengan iringan music, namun hanya dengan nyanyian atau celoteh anak-anak tersebut. Sekarang kuda blarak sudah menggunakan iringan music bila ingin memainkannya.
Gb. Tarian Kuda Blarak
5. Tari Warak Dugder
Menjelang datangnya bulan suci ramadhan, di kota Sedmarang selalu diadakan tradisi Dugderan . dimana tradisi tersebut berasal dari kata Dug dan Der. Dug adalah suara bedhug yang ditabuh atau dipukul oleh Adipati Semarang, sedangkan Der dari suara meriam yang dibunyikan sebagai tanda dimulainya bulan suci ramadhan. Dan saat itulah masyarakat mengadakan arak-arakkan keliling kota dengan menampilkan warak yaitu boneka hewan rekaan beserta manger, serta adanya kerajinan dan mainan gerabah dari tanah liat. Hadirnya tari warak dugder adalah sebagai seni pertunjukan rakyat dengan gerak dan iringan semarangan, serta unsure garap yang terilhami dari berbagai etnis yang bermukim di kota Semarang seperti budaya Cina, Islam, Jawa dan kondisi alam seperti pantai, pegunungan, perniagaan serta berbagai peristiwa budaya lain yang hidup dan berkembang di kota Semarang.
Gb. Tarian Warak Dugder
6. Tari Denok Deblong
Tari denok deblong dalam kehadirannya merupakan nama dari sebuah tari gaya semarangan versi greget, yang terilhami oleh keberadaan alam kota Semarang yang memiliki pegunungan, perkotaan serta pantai dengan berbagai pengaruh kebudayaan baik dari Cina, Islam, Portugis, dll, seni klasik serta peristiwa budaya masyarakat Semarang, baik tata gerak rias dan busana. Denok yang berarti sebutan khas bagi remaja putrid kota Semarang, sedangkan Deblong adalah kata yang diucap oleh ibu atau biyung kepada anak perempuan ketika ditimang. Bermakna baik, yaitu tentang kecantikan, kepandaian dan sebuah harapan agar momongannya jadi putri yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negaranya.
7. Tari Satria Yaksa
Bentuk tari klasik Jawa Tengah ini diangkat dari salah satu fragmen pada pertunjukkan wayang orang yang mengisahkan tentang perjalanan seorang satria ketika bertemu dengan raksasa atau cakil dimana hal tersebut merupakan sebuah penggambaran tentang tujuan baik kadang harus menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang harus teratasi. Dalam sajiannya, tarian ini sebagai patuladan bahwa sifat yang baik selalu unggul dari kedengkian dan kejahatan.
8. Tari Kuda Lumping
Yaitu tarian dengan menggunakan kuda dari kepang (bambu) yang diiringi oleh alat music gamelan. Tarian ini terdapat di seluruh eks karisidenan Semarang.
9. Tari Gambang Semarang
Tarian ini merupakan jenis tarian yang baru yang berkembang di Semarang.
Tarian ini biasanya ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Gerak tarinya bersifat spontan dan menampilkan improvisasi dari para penarinya. Terdapat unsure kecinaan dalam tarian ini.laras gamelanya hamper sama dengan laras slendro yang telah dimodivikasi. Instrument yang digunakan antara lain kendang ketipung, boning barung, kempul, kecrek, rebeb, suling, trompet. Gambang semarang berfungsi sebagai tari pergaulan untuk hiburan pada waktu pesta perkawinan atau acara pesta lainya.
10. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah salah satu tarian yang turut memeriahkan acara grebeg besar di Kabupaten Demak. Disajikan sebelum acara penjamasan dan sesaat setelah laporan Lurah Tamtama kepada Bupati. Jumlah penari sembilan orang wanita, dihubungkan dengan simbol jumlah sembilan wali di Jawa, selain itu juga berkaitan dengan makrokosmos dan mikrokosmos ( alam raya dan isinya ). Tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini dipentaskan dalam waktu kurang lebih 15-20 menit.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hanya berperan untuk memberikan warna baru dan sebagai aset pariwisata. Sehingga fungsi dari Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah sebagai upaya pengembangan yang diharapkan dapat menopang kebudayaan tradisonal. Sedikit penjelasan tersebut diatas dapat kita ketahui bawa tari Bedhaya Tunggal Jiwa mengalami proses yang sama, yaitu adanya perkembangan – perkembangan dalam setiap kali pementasan. Dari perkembangan tersebut mengakibatkan adanya perubahan yang mempunyai pengertian menuju ke arah kemajuan ataupun kualitas dari hasil kreatifitas seni. Perkembangan yang ada ini tidak hanya pada perkembangan struktur gerak namun lebih pada ide pokok pemikiran yang pada akhirnya akan dapat membawa nama baik maupun identitas dari masyarakat Demak. Melalui perkembangan ini dimunculkan nama, bentuk, warna kostum dan pola lantai maupun hitungan alur gerak. Sehingga tersusunlah nama tari yang dulunya dari Bedhaya Tunggal Jiwa menjadi Bedhaya Santi Mulyo. Dimana tarian tersebut sama sekali tidak terkait dengan proses ritual yang tradisi namun lebih mengacu pada nilai – nilai yang terkandung dalam proses ritualitas masyarakat Demak khususnya acara Grebeg Besar di Demak.
Dari beberapa aspek tersebut terdapat suatu fenomena yang menarik untuk mengungkap proses kreatif yang mempengaruhi munculnya penciptaan Bedhaya Tunggal Jiwa. Tarian tersebut muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya TunggalJiwa.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hadir dalam Grebeg Besar dan sesuai dengan tujuan penyusunan tari ini untuk memberikan warna baru dalam Grebeg Besar Demak. Gerak dan karakter yang dibawakan oleh penari adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Disertai dengan motif gerak peralihan srisig, kengser, sindhet, ukel karno dan lain sebagainya. Rias wajah yang digunakan yaitu rias cantik dengan kostum dodot alit. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa dalam penyajiannya tetap menggunakan tasbih sebagai properti disamping sebagai simbol alat berdzikir bisa juga sebagai alat penangkal bala atau godaan setan.
11. Tari Jipin
Jipin bergandengan dengan rebana jumlah menurut situasi tempat. Berfungsi sebagai komunikasi dengan masyarakat. Dilakukan saat ada perayaan, sunatan, sedekah bumi. Dilakukan oleh remaja masjid.
12. Tari Bondan
Tari Bondan adalah tarian yang menggunakan boneka dan payung, tarian ini menggambarkan seorang ibu yang sedang menggendong dan merawat ‘ngemi-ngemi’ anaknya.
Tari Gendot
Tari gendot merupakan salah satu tarian khas di kabupaten Kendal, tepatnya di desa manggungmangu kecamatan Plantungan. Di daerah ini tarian gendot dilakukan ketika ada upacara-upacara adat tertentu dan pesta-pesta. Seperti ketika upacara Nyadran Deso, dalam upacara ini tarian Gendot disajikan bertujuan untuk menghormati roh leluhur atau roh penunggu di tempat-tempat tertentu di kecamatan Plantungan. Tarian ini juga diadakan ketika pesta-pesta, seperti pesta pernikahan. Di dalam pesta pernikahan, tarian disajikan setelah upacara pernikahan selesai. Tepatnya sebagai hiburan para tamu undangan dan keluarga.
Tari gendot terdiri dari 3 atau lebih penari, penari disini semuanya wanita. Dalam tarian ini diiringi gamelan sederhana yang dimainkan oleh 3 atau lebih orang. Selain upacara dan pesta-pesta, tarian ini juga dapat dijadikan sebagai lahan pendapatan masyarakat di desa Manggungmangu kecamatan Plantungan. Pada waktu-waktu tertentu, sekelompok penari berjalan mencari seorang yang mau membayarnya. Dalam hal ini penari hanya memberikan paket jam. Setelah paket habis, penari beserta kelompoknya mencari orang lagi yang mau nanggap.
Tari kuda debog merupakan tarian khas dari daerah Keji, di daerah Ungaran. Dulunya tarian ini merupakan permainan anak-anak setempat. Kerena pada waktu itu orang tua tidak mampu membelikan mainan, sehingga anak-anak mengambil pelepah daun pisang untuk dijadikan kuda-kudaan dan ditarikan. Tarian ini hampir sama dengan tarian kuda lumping. Hanya yang dijadikan kudanya adalah debog (pelepah pisang).
3. Tarian Keprajuritan
Tarian keprajuritan merupakan tarian yang dimainkan oleh para laki-laki dewasa dengan jumlah pemain bebas. Tarian keprajuritan banyak berkembang di Semarang. Di daerah Ambarawa, keprajuritan disebut juga dengan Soreng, sedangkan di daerah Salatiga disebut dengan Reog. Tarian ini menggunakan kostum prajurit keraton. Tari keprajuritan melambangkan kegagahan dan keberanian seorang prajurit yang sedang berlaga. Gerak tariannya diiringi dengan kempul dan gong. Pada saat tari dipentaskan, ada salah seorang penari yang menjadi pemimpin dalam tarian itu yang membawa peluit yang pada saat-saat tertentu akan ditiup. Dengan ditiupnya peluit tersebut menandakan pergantian gerakan. Pada zaman sekarang tarian ini dimainkan semata-mata untuk hiburan. Biasanya dipentaskan saat warga mengadakan hajatan atau peringatan hari-hari tertentu.
Gb. Tarian Keprajuritan
4. Tarian Kuda Blarak
Tarian ini hampir sama dengan tari kuda lumping, tapi yang menjadi ciri khas adalah kuda yang digunakan untuk menari terbuat dari daun kelapa (blarak). Kuda blarak ini hanya ada di desa Bejalen kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Yang memainkan adalah anak laki-laki. Tarian kuda blarak ini tercipta atas ide kepala dinas kebudayaan dan pariwisata setempat untuk menghidupkan kesenian yang ada di desa Bejalen sejak zaman dahulu. Dulunya anak-anak bejalen biasa mengambil daun kelapa atau blarak untuk bermain kuda-kudaan. Daun kelapa yang masih ada pelepahnya dianyam sehingga membentuk seperti kuda kepang, kemudian dimainkan bersama-sama. Dulu saat memainkannya tidak disertai dengan iringan music, namun hanya dengan nyanyian atau celoteh anak-anak tersebut. Sekarang kuda blarak sudah menggunakan iringan music bila ingin memainkannya.
Gb. Tarian Kuda Blarak
5. Tari Warak Dugder
Menjelang datangnya bulan suci ramadhan, di kota Sedmarang selalu diadakan tradisi Dugderan . dimana tradisi tersebut berasal dari kata Dug dan Der. Dug adalah suara bedhug yang ditabuh atau dipukul oleh Adipati Semarang, sedangkan Der dari suara meriam yang dibunyikan sebagai tanda dimulainya bulan suci ramadhan. Dan saat itulah masyarakat mengadakan arak-arakkan keliling kota dengan menampilkan warak yaitu boneka hewan rekaan beserta manger, serta adanya kerajinan dan mainan gerabah dari tanah liat. Hadirnya tari warak dugder adalah sebagai seni pertunjukan rakyat dengan gerak dan iringan semarangan, serta unsure garap yang terilhami dari berbagai etnis yang bermukim di kota Semarang seperti budaya Cina, Islam, Jawa dan kondisi alam seperti pantai, pegunungan, perniagaan serta berbagai peristiwa budaya lain yang hidup dan berkembang di kota Semarang.
Gb. Tarian Warak Dugder
6. Tari Denok Deblong
Tari denok deblong dalam kehadirannya merupakan nama dari sebuah tari gaya semarangan versi greget, yang terilhami oleh keberadaan alam kota Semarang yang memiliki pegunungan, perkotaan serta pantai dengan berbagai pengaruh kebudayaan baik dari Cina, Islam, Portugis, dll, seni klasik serta peristiwa budaya masyarakat Semarang, baik tata gerak rias dan busana. Denok yang berarti sebutan khas bagi remaja putrid kota Semarang, sedangkan Deblong adalah kata yang diucap oleh ibu atau biyung kepada anak perempuan ketika ditimang. Bermakna baik, yaitu tentang kecantikan, kepandaian dan sebuah harapan agar momongannya jadi putri yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negaranya.
7. Tari Satria Yaksa
Bentuk tari klasik Jawa Tengah ini diangkat dari salah satu fragmen pada pertunjukkan wayang orang yang mengisahkan tentang perjalanan seorang satria ketika bertemu dengan raksasa atau cakil dimana hal tersebut merupakan sebuah penggambaran tentang tujuan baik kadang harus menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang harus teratasi. Dalam sajiannya, tarian ini sebagai patuladan bahwa sifat yang baik selalu unggul dari kedengkian dan kejahatan.
8. Tari Kuda Lumping
Yaitu tarian dengan menggunakan kuda dari kepang (bambu) yang diiringi oleh alat music gamelan. Tarian ini terdapat di seluruh eks karisidenan Semarang.
9. Tari Gambang Semarang
Tarian ini merupakan jenis tarian yang baru yang berkembang di Semarang.
Tarian ini biasanya ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Gerak tarinya bersifat spontan dan menampilkan improvisasi dari para penarinya. Terdapat unsure kecinaan dalam tarian ini.laras gamelanya hamper sama dengan laras slendro yang telah dimodivikasi. Instrument yang digunakan antara lain kendang ketipung, boning barung, kempul, kecrek, rebeb, suling, trompet. Gambang semarang berfungsi sebagai tari pergaulan untuk hiburan pada waktu pesta perkawinan atau acara pesta lainya.
10. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah salah satu tarian yang turut memeriahkan acara grebeg besar di Kabupaten Demak. Disajikan sebelum acara penjamasan dan sesaat setelah laporan Lurah Tamtama kepada Bupati. Jumlah penari sembilan orang wanita, dihubungkan dengan simbol jumlah sembilan wali di Jawa, selain itu juga berkaitan dengan makrokosmos dan mikrokosmos ( alam raya dan isinya ). Tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini dipentaskan dalam waktu kurang lebih 15-20 menit.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hanya berperan untuk memberikan warna baru dan sebagai aset pariwisata. Sehingga fungsi dari Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah sebagai upaya pengembangan yang diharapkan dapat menopang kebudayaan tradisonal. Sedikit penjelasan tersebut diatas dapat kita ketahui bawa tari Bedhaya Tunggal Jiwa mengalami proses yang sama, yaitu adanya perkembangan – perkembangan dalam setiap kali pementasan. Dari perkembangan tersebut mengakibatkan adanya perubahan yang mempunyai pengertian menuju ke arah kemajuan ataupun kualitas dari hasil kreatifitas seni. Perkembangan yang ada ini tidak hanya pada perkembangan struktur gerak namun lebih pada ide pokok pemikiran yang pada akhirnya akan dapat membawa nama baik maupun identitas dari masyarakat Demak. Melalui perkembangan ini dimunculkan nama, bentuk, warna kostum dan pola lantai maupun hitungan alur gerak. Sehingga tersusunlah nama tari yang dulunya dari Bedhaya Tunggal Jiwa menjadi Bedhaya Santi Mulyo. Dimana tarian tersebut sama sekali tidak terkait dengan proses ritual yang tradisi namun lebih mengacu pada nilai – nilai yang terkandung dalam proses ritualitas masyarakat Demak khususnya acara Grebeg Besar di Demak.
Dari beberapa aspek tersebut terdapat suatu fenomena yang menarik untuk mengungkap proses kreatif yang mempengaruhi munculnya penciptaan Bedhaya Tunggal Jiwa. Tarian tersebut muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya TunggalJiwa.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hadir dalam Grebeg Besar dan sesuai dengan tujuan penyusunan tari ini untuk memberikan warna baru dalam Grebeg Besar Demak. Gerak dan karakter yang dibawakan oleh penari adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Disertai dengan motif gerak peralihan srisig, kengser, sindhet, ukel karno dan lain sebagainya. Rias wajah yang digunakan yaitu rias cantik dengan kostum dodot alit. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa dalam penyajiannya tetap menggunakan tasbih sebagai properti disamping sebagai simbol alat berdzikir bisa juga sebagai alat penangkal bala atau godaan setan.
11. Tari Jipin
Jipin bergandengan dengan rebana jumlah menurut situasi tempat. Berfungsi sebagai komunikasi dengan masyarakat. Dilakukan saat ada perayaan, sunatan, sedekah bumi. Dilakukan oleh remaja masjid.
12. Tari Bondan
Tari Bondan adalah tarian yang menggunakan boneka dan payung, tarian ini menggambarkan seorang ibu yang sedang menggendong dan merawat ‘ngemi-ngemi’ anaknya.
Tari Gendot
Tari gendot merupakan salah satu tarian khas di kabupaten Kendal, tepatnya di desa manggungmangu kecamatan Plantungan. Di daerah ini tarian gendot dilakukan ketika ada upacara-upacara adat tertentu dan pesta-pesta. Seperti ketika upacara Nyadran Deso, dalam upacara ini tarian Gendot disajikan bertujuan untuk menghormati roh leluhur atau roh penunggu di tempat-tempat tertentu di kecamatan Plantungan. Tarian ini juga diadakan ketika pesta-pesta, seperti pesta pernikahan. Di dalam pesta pernikahan, tarian disajikan setelah upacara pernikahan selesai. Tepatnya sebagai hiburan para tamu undangan dan keluarga.
Tari gendot terdiri dari 3 atau lebih penari, penari disini semuanya wanita. Dalam tarian ini diiringi gamelan sederhana yang dimainkan oleh 3 atau lebih orang. Selain upacara dan pesta-pesta, tarian ini juga dapat dijadikan sebagai lahan pendapatan masyarakat di desa Manggungmangu kecamatan Plantungan. Pada waktu-waktu tertentu, sekelompok penari berjalan mencari seorang yang mau membayarnya. Dalam hal ini penari hanya memberikan paket jam. Setelah paket habis, penari beserta kelompoknya mencari orang lagi yang mau nanggap.
tarian
1. Tari Pesisiran
Tari pesisiran ampir di seluruh eks karesidenan Semarang Tarian ini dimainkan oleh remaja putri dan putra yang jumlahnya bebas. Dahulu dimainkan disaat terang bulan purnama tatkala bersuka ria penuh keriangan dan kegembiraan dengan iringan lagu pesisiran. Tarian ini merupakan bentuk perpaduan dari berbagai kesenian rakyat yang ada di daerah Jawa tengah beserta unsure gerak maupun iringannya. Dalam kehadirannya banyak dipengaruhi oleh seni gaya Banyumasan dan wilayah pesisir pantai termasuk gaya semarangan. Dalam penampilannya, kehadiran kain batik dan baju kebaya beserta aksesoris kerajinan Jawa Tengah merupakan kelengkapan yang dikenakan oleh penari, tak lupa juga tata rias yang cerah dan mempesona.
Tari pesisiran ampir di seluruh eks karesidenan Semarang Tarian ini dimainkan oleh remaja putri dan putra yang jumlahnya bebas. Dahulu dimainkan disaat terang bulan purnama tatkala bersuka ria penuh keriangan dan kegembiraan dengan iringan lagu pesisiran. Tarian ini merupakan bentuk perpaduan dari berbagai kesenian rakyat yang ada di daerah Jawa tengah beserta unsure gerak maupun iringannya. Dalam kehadirannya banyak dipengaruhi oleh seni gaya Banyumasan dan wilayah pesisir pantai termasuk gaya semarangan. Dalam penampilannya, kehadiran kain batik dan baju kebaya beserta aksesoris kerajinan Jawa Tengah merupakan kelengkapan yang dikenakan oleh penari, tak lupa juga tata rias yang cerah dan mempesona.
Minggu, 06 Juni 2010
Upacara Merti Dhusun

Masih di kabupaten Semarang, di Desa Keji Kecamatan Ungaran Barat, kami juga menemukan upacara yang hampir serupa dengan yang ada di desa Bejalen yaitu Merti dhusun. Merti dhusun merupakan acara syukuran yang dilakukan warga desa Keji setiap satu tahun sekali. Acara ini biasanya diadakan pada hari Senin kliwon, pada pertengahan tahun. Acara ini diadakan untuk menghormari arwah nenek moyang pembuka dusun keji, yaitu orang pertama yang tinggal di Keji.
Pada saat acara, warga membawa makanan berupa nasi dan lauk pauknya, seperti ayam, sayur tahu, dan kerupuk, serta beberapa jajan pasar dan minuman. Mereka memebawa makanan tersebut ke rumah kepala desa, tempat dimana merti dhusun dilakukan. Setelah itu mereka berdoa bersama-sama, dan setelah doa selesai maka mereka mersama-sama menyantap makanan yang sudah mereka bawa.
Legenda Rawa Pening

Walau tak tak ada yang tahu pasti, sejak kapan legenda itu muncul dan mengapa kawasan tersebut di sebut Rawa pening, tetap saja masyarakat setempat mengaitkan telaga seluas 2.670 Ha itu dengan kemunculan sesosok ular besar yang dianggap keramat. Masih menurut mereka, di saat-saat tertentu ular tersebut bergerak mengitari telaga untuk memberi berkah bagi orang-orang yang membutuhkan. Sampai-sampai untuk menghormati legenda tersebut, sebuah ornamen dari beton berbentuk ular besar pun di pasang di pintu masuk telaga ini.
Rawa Pening, demikian nama objek wisata itu. Rawa Pening merupakan lokasi wisata populer di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa, berjarak 45 Km dari Semarang. Luasnya mencakup 4 wilayah kecamatan; Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Telaga ini sendiri berada di lereng Gn. Merbabu, Gn. Telomoyo dan Gn. Ungaran dengan ketinggian 461 mdpl.
Saat itu, di sebuah kesempatan kami memulainya dari Salatiga, hanya memakan waktu 10 menit berkendara. Rupanya, jarak Salatiga – Rawa Pening cuma 5 Km. Untuk sampai kesana kita akan melalui jalan yang sedikit menanjak dan berkelok-kelok. Beberapa rumah dan kebun tampak menghiasi sisi kanan dan kiri jalan. Selain itu, tak ketinggalan hawa dingin yang langsung menyergap, pertanda kita sedang berada di ketinggian.
Hari tampak mendung, saat kami tiba di objek wisata ini, pukul 8.30 pagi. Keinginan menjelajahi telaga yang luasnya mencakup 4 kecamatan ini pun sempat urung dilaksanakan. Pasalnya, tak lama berselang hujan deras turun. Jika sudah begini, jarak pandang akan terbatas akibat kabut dan penyewaan perahu tampak sepi.
Rencananya, kunjungan singkat ini untuk menikmati pesona telaga yang dianggap sakral oleh penduduk setempat, sembari melihat dari dekat penghuni kawasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut ‘ikan wader’. Konon telur ikan ini berkhasiat sebagai obat perekat bagi tulang yang patah.
Sebuah Legenda
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting.
Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar.
Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular.
Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita tua yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula.
Akhirnya, tak dinyana tak di duga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin di tempat itu. Kalaupun ada, pasti akan di usir atau dibuat tidak nyaman dengan berbagai cara.
Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyellinap masuk. Namun apa ayal, ia pun harus rela di usir paksa karena ketahuan.
Saat tengah di seret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Sama seperti mereka. Di perlakukan begitu ia tak begitu ambil pusing. Namun amarah mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. “dasar anak setan, anak buruk rupa”, begitu maki mereka.
Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya.
Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lagi-lagi, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si bocah. “Jangan-jangan akan ada apa-apa?” pikir mereka.
Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetuan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga.
Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang.
Namun penyihir jahat, tetap tak terima, hingga di suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya.
Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul 00.00 WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya di kenal sebagai Baru Klinting.
Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling di tunggu-tunggu.
Langganan:
Postingan (Atom)