sug_rwuh

Selasa, 27 September 2011

kecak (bali)

Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack, dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
tari bedhaya amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.

Perbendaharaan beksan (tarian) tradisi keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari berbagai ragam. Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu tari yang punya sifat magis religius, tari yang menggambarkan peperangan, dan tari yang mengandung cerita (drama).


Masing-masing tari tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal buat, melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mistis dan gaib.
Tari yang punya sifat magis-religius ini, seperti Bedhaya biasanya diperagakan oleh kaum putri yang berjumlah 7 atau 9 orang, sedang yang diperagakan oleh 4 putri biasa disebut Tari Srimpi.

Asal-usul Tari Bedhaya Ketawang
Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang.
Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan)
Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya.
Siapa sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih simpang siur.
Bedoyo Ketawang misalnya menurut Sinuhun Paku Buwono X menggambarkan lambang cinta kasihnya Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati, segala gerak melambangkan bujuk rayu dan cumbu birahi, walaupun dapat dielakkan Sinuhun, Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samodera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana ( Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan) dan terjadilah Perjanjian/Sumpah Sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Pertama tanah Jawa, yang tidak dapat dilanggar oleh raja-raja Jawa yang turun temurun atau raja-raja penerus.
Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama-sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati). Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan. Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan tari Bedhaya Ketawang.

Rabu, 10 Agustus 2011

jamuran

jamuran merupakan salah satu permainan tradisional yang ada di pulau jawa.

Sebelum permainan ini dimulai biasanya di awali dengan hompimpah untuk menentukan siapa menang siapa kalah. kalah atau menang, anak-anak tetap riang. anak-anak yang menang, bergandengan membentuk lingkaran sembari melantunkan syair jamuran sementara satu anak yang berdiri di tengah lingkaran yang menandakan bahwa anak itu yang kalah.

Jamuran… jamuran…ya ge ge thok
jamur apa ya ge ge thok
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung
sira badhe jamur apa?

begitu kira-kira syairnya. tiba pada kalimat 'sira badhe jamur apa?', si anak yang berada di tengah lingkaran lantas berteriak menyebut sebuah gerakan pura-pura yang wajib kami perbuat. anak-anak lain yang semula bergandengan tangan membentuk lingkaran, kontan berhamburan. Untuk menirukan seperti apa yang di ucapkan si anank yang kalah tadi. Misal seperti ini.....

'jamur montor!'

ketika di ucapkan 'jamur montor! Anak-anak yang berhamburan untuk berubah menjadi berbagai kendaraan beroda. ada yang menjadi mobil polisi. ada yang menjadi dokar. ada yang menjadi sepeda motor. ada yang menjadi kereta. masing-masing kami bergumam menirukan suara tiap-tiapnya sembari berjalan mondar-mandir. hingga terdengar lagi sebuah suara.

'jamur patung!'

lantas anak-anak bergegas menjadi patung. diam tak bergerak. tidak boleh tersenyum. tidak boleh tertawa. meski digoda. meski diajak berbicara.

bagi anak yang tertawa, tersenyum, atau yang bergerak akan terkena hukuman yaitu ia harus menggantikan posisi anak yang kalah tadi.bila sudah ada yang terkena, kami lantas bermain lagi dari mula. bila sudah ada terhukum, kami yang terbebas bisa lega tersenyum.

yang kena hukuman, masuk ke dalam lingkaran. yang lainnya, bergandengan tangan melingkar dan mulai menembang. jamuran... jamuran... ya ge ge thok............ . . .

tiba pada kalimat 'sira badhe jamur apa?'(intinya permainan dimulai seperti awal tadi).

'jamur monyet!'

Anak-anak segera melepas tautan tangan. semua berhamburan. macam-macam gerakannya. ada yang dengan segera memanjat pohon. ada yang hanya menggaruk-garuk kepala. ada yang sesekali meloncat-loncat. ada yang seketika duduk dan berpura-pura seperti sedang mencari kutu pada kepala temannya.

anak-anakpun banyak yang tertawa terpingkal karenanya.

'jamur patung!'

maka seketika itu juga kami tidak boleh bergerak. seketika itu juga kami tidak boleh tertawa.

nyatanya ada yang tidak bisa, tetap terpingkal sehingga terkena hukuman. Jika yang terkena hukuman lebih dari satu maka ditentukan dengan pingsut atau hompipah.

sementara malam terus diremangi rembulan. tembang jamuran... jamuran... godhong gedang.. siram bayem jamur apa!... terus di nyanyikan.

Sabtu, 18 Desember 2010

Watu payung

Pada jaman dahulu kala ada seorang pertapa yang bernama Ki Jenggot. Dia dikenal sangat sakti di desa tersebut. Ketika bulan sura dia selalu bertapa di dalam sebuah batu besar yang ada di tengah hutan. Tetapi ketika bulan sura telah usai dia kembali ke rumahnya. Masyarakat begitu percaya dengan kesaktian Ki Jenggot. Hingga pada malam bulan sura berikutnya tiba, Ki Jenggot mendapat firasat buruk terhadap ketentraman desa tersebut. Semua ketentraman dan kedamaian di desa itu akan hilang. Hal ini dirasa karena semua tanaman sulit untuk tumbuh subur. Sehingga mau tidak mau Ki Jenggot harus menambah waktu bertapanya di tengah hutan untuk meminta petunjuk. Sebelum Ki Jenggot berangkat ke hutan ia memberi pesan kepada tetangganya yang bernama Wono untuk tidak mengganggunya ketika bertapa. Wono menyetujui permintaan Ki Jenggot tersebut.
Bulan Sura telah berakhir tetapi tanaman masih saja sulit untuk tumbuh, hujanpun belum juga turun. Masyarakat pasrah menerima kenyataan tersebut. Hingga suatu ketika, ada seorang yang melewati desa tersebut dan memberi saran kepada masyarakat untuk meminta petunjuk kepada pemberi hidup. Orang tersebut bernama Aji. Hingga masyarakat meminta petunjuk dan berdoa bersama agar diturunkannya hujan. Ketika hujan turun dengan derasnya, salah satu warga yang bernama Wono meminta ijin untuk menjemput Ki Jenggot. Wono merasa bahwa hujan ini juga berkat usaha keras Ki Jenggot. Hujanpun tidak mengurungkan niat Wono untuk menjemput tetangganya tersebut. Wono mengajak Ki Jenggot untuk menghentikan bertapanya karena hujan sudah turun dengan derasnya, masyarakat takut jika berakibat banjir. Tetapi Ki Jenggot tetap diam di dalam gua. Sementara Wono tetap memaksa Ki Jenggot untuk keluar dari gua. Wono terus berteriak dan berteriak agar Ki Jenggot mendengar. Selang beberapa menit, Ki jenggot keluar dengan wajah penuh emosi. Raut mukanya berwarna merah. Dengan lantangnya, Ki Jenggot berkata “Kau telah melupakan janjimu untuk tidak menggangguku bertapa”, “Kau ku kutuk menjadi batu”. Perlahan kaki Wono membatu hingga sampai ujung rambut, begitu pula payung yang ia pakai berubah menjadi batu.
Sampai saat ini, batu yang berbentuk seperti payung tersebut masih ada. Konon tempat tersebut tidak pernah di datangi oleh manusia. masyarakat takut jika apa yang ia lakukan secara tidak sengaja di depan gua tersebut akan dikutuk oleh Ki Jenggot.

Amanat : janganlah mengganggu pekerjaan orang lain (ngriwuki) karena akan berdampak pada kehidupan kita.

Sumber: Mbah Mistiyah

ASAL MULA SUNGAI PENGANTEN

Sungai penganten atau pengantin ialah sungai yang terletak di desa Sikemplong kecamatan Plantungan kabupaten Kendal. Sungai ini ialah gabungan dari dua sungai, yaitu sungai yang berasal dari desa Manggungmangu dan sungai yang berasal dari desa Saron. Masyarakat desa sikemplong mempercayai bahwa masing-masing sungai tersebut memiliki danyang atau penunggunya. Menurut cerita dari masyarakat, danyang tersebut menikah dan beranak pinak di sungai tersebut.
Masyarakat kemudian memiliki kepercayaan bahwa ketika seseorang yang belum menemukan jodoh mandi di sungai tersebut maka akan cepat menemukan jodoh. Ritual mandi kembang tersebut tentunya dipimpin oleh sesepuh desa ini yaitu Mbah Mistiyah. Upacara mandi kembang dilakukan ketika tanggal 1 malam sura, dengan syarat-syarat tertentu. Masyarakat jawa mempercayai bahwa air dapat membersihkan berbagai macam kotoran, termasuk kotoran yang ada dalam diri sehingga mandi kembang ini dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menghalang-halangi temu jodo pada diri seseorang.


Sumber mbah mistiyah

Selasa, 23 November 2010

upacara Jathukraman

8. Upacara Jatukraman
Upacara Jatukraman merupakan salah satu upacara adat di desa Sikemplong, kecamatan Plantungan, kabupaten Kendal. Upacara yang dilaksanakan pada bulan sura atau sasi sura ini merupakan salah satu upacara adat yang masih ada sampai sekarang di desa ini.
 Sejarah singkat upacara Jatukraman
Plantungan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di lereng gunung Perahu, di daerah ini masih mempercayai mitos-mitos yang ada sejak jaman dahulu salah satunya ialah mitos mandi kembang di kali Pengantin. Penduduk mempercayai bahwa upacara Jatukraman merupakan upacara dimana seorang perempuan yang belum mendapatkan pasangannya dan sudah jenuh mencari tetapi belum juga mendapatkan jodoh maka dengan mandi kembang di sungai tersebut kelak akan menemukan jodohnya. Karena sudah banyak orang-orang yang membuktikan, maka dari hanya sekadar mitos perlahan-lahan berubah menjadi salah satu adat di desa ini.
 Tata cara upacara Jatukraman
Ketika sasi sura di tengah malam (jam 00.00) malam jum’at kliwon, diadakanlah upacara Jatukraman dimana seorang perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut mandi di sungai pengantin bersama juru kunci sungai tersebut.
Syarat-syaratnya:
 Seorang perempuan tersebut harus sudah berpuasa selama 40 hari sebelum menjalankan ritual mandi di kali pengantin,
 Memakai jarik ketika proses mandi tersebut,
 Menyiapkan kembang tujuh rupa (berfungsi agar membuat wangi perempuan yang belum menemukan jodohnya tersebut,
 Menyiapkan dupa atau sesaji guna diletakkan di pinggir sungai (berfungsi agar upacara yang dilakukan pada malam itu terasa rumesep)
 Ketika upacara Jatukraman tersebut selesai, laki-laki siapa saja yang mendekati adalah merupakan jodoh yang dicari selama ini.
Tata cara:
 Perempuan yang belum menemukan jodoh tersebut di iring dari rumah sesepuh desa menuju kali pengantin mengenakan kebaya lengkap,
 Sesampainya di kali pengantin perempuan mengganti pakaian kebaya dengan hanya mengenakan jarik (seperti wanita jaman dahulu ketika mandi (kembenan)),
 Membaca doa yang akan dituntun oleh sesepuh desa atau juru kunci kali pengantin,
 Mengambil air sungai tersebut kemudian dicampurkan dengan kembang tujuh rupa kemudian disiramkan di seluruh tubuh, tahap ini tidak dilakukan sendiri tetapi oleh juru kunci (mandi disini hanya sebagai syarat guna menghilangkan kotoran yang ada didalam diri yang berakibat sulit menemukan jodoh),
 Pembacaan doa oleh juru kunci,
 Setelah selesai perempuan tersebut diiring kembali menuju rumah juru kunci guna istirahat.
Upacara ini tergolong upacara yang jarang sekali dilakukan, hanya ketika ada perempuan yang minta pertolongan guna mencarikan jodoh. Dan diharapkan dengan upacara ini perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut segera mendapatkan jodoh. Uniknya setelah beberapa minggu upacara berlangsung, perempuan tersebut langsung menemukan jodohnya. Hal ini dikarenakan kepercayaan yang kuat yang mengalir pada diri perempuan tersebut dan masyarakat

Jumat, 08 Oktober 2010

tembang dolanan

Jago Kluruk

Ing wayah esuk, jagone kluruk
Rame swarane pating kemruyuk
Wadhuh senenge sedulur tani
Bebarengan padha nandur pari

Srengenge nyunar kulon prenahe
Manuke ngoceh ana wit-witan
Paling cemruwit rame swarane
Tambah asri donya saisine

Senin, 21 Juni 2010

krupuk oseg

Krupuk khas kendal adalah krupuk useg atau krupuk tayamum. Istilah ini dikenal karena cara menggorengnya bukan dengan minyak goreng tapi dengan pasir halus (wedhi ) dengan diuseg-useg. Karena tidak basah/kering dan dengan pasir layaknya orang berwudlu tayamum maka dikenal pula kerupuk tayamum.
Industri kerupuk merupakan bagian dari industri kecil yang ada di Kabupaten Kendal. Ketika terjadi krisis ekonomi, industri kecil kerupuk di Kabupaten Kendal mampu bertahan bahkan berkembang cukup baik dan menggembirakan. Hal ini terlihat dengan adanya pertumbuhan unit usaha dan penyerapan tenaga kerja. Melihat kondisi sekarang ini industri kecil kerupuk yang potensial untuk berkembang adalah industri kecil kerupuk di Desa Sarirejo, Protomulyo, Krajan kulon Kec. Kaliwungu, Kelurahan Kebondalem, Langenharjo, Tunggulsari dan Sijeruk Keca-matan Kota Kendal, Desa Gemuh Blanten Kecamatan Gemuh, Desa Boja Kecamatan Boja, Desa Kertosari Kecamatan Singorojo, Desa Lanji, Sukolilan dan Kebonharjo Patebon, Desa Karangsuno - Cepiring, dan Desa Parakan Sebaran Kecamatan Pageruyung.

Sebagai bahan baku kerupuk adalah tepung tapioka, tepung terigu, ada juga bahan baku dari tepung rembulung. Di sentra kerupuk di Kecamatan Kaliwungu biasanya pengrajin mencampur dengan berbagai cita rasa aroma seperti manis gurih dan sedikit aroma udang maupun petis.
Industri kecil pembuatan kerupuk sebagian besar dikelola secara tradisional oleh ibu-ibu rumah tangga/home industri. Kualitas produk kerupuk di sentra-sentra ini masih perlu ditingkatkan lagi agar mampu bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain. Adapun jenis produksi kerupuk yang dihasilkan antara lain kerupuk udang, kerupuk coklat (kerupuk rembulung), kerupuk petis, dan kerupuk goreng pasir.

Rabu, 16 Juni 2010

LUNPIA



Sejarah berdirinya dinasti “Loenpia Tjoa-Wasi” diawali dengan adanya persaingan keras antara Tjoa Thay Joe dengan mbok Wasi. Tentu saja persaingan dalam hal memasarkan dagangan lunpia masing-masing. Keduanya adalah pedagang lunpia kenamaan pada abad ke-19.
Tjoa Thay Joe adalah seorang cina totok berasal dari Fu Kien. Dia menyajikan lunpia dengan rasa sesuai daerah asalnya yakni Hokkian. Sedangkan mbok Wasi, wanita semarang asli, menyajikan lunpia yang rasanya sesuai dengan lidah semarang, yakni nada rasa masing-masing asing. Karena kerasnya persaingan itu, keduanya berlomba meningkatkan mutu barang dagangannya masing-masing. Namun perkembangan selanjutnya sungguh tak terduga.
Tiba-tiba saja Tjoa Thay Joe datang pada mbok Wasi dengan tujuan meminang saingan beratnya itu. Tiada disangka rupanya gayung bersambut, mbok Wasi menerima lamaran.
Setelah persaingan dikompromikan dengan perkawinan, selanjutnya resep lunpiapun dipertemukan dalam racikan. Tjoa dari Cina menggunakan babi dan rebung sebagai bahan pembuatan lunpia, sedangkan mbok Wasi dari Semarang menggunakan sayuran (rebung, kol, wortel), telur dan udang. Hasilnya lahirlah lunpia generasi baru yang merupakan perpaduan rasa Hokkian dan Semarangan. Lunpia era anyar inilah yang menjadi cikal bakal lunpia Semarang yang terkenal sampai sekarang dan tentunya daging babi sudah tidak masuk dalam bahan pembuatan lunpia lagi. Resepnya yang terambil dari kekuatan cinta.
Pada masa kejayaan Tjoa-Wasi, para penggemar Lunpia harus menunggu dulu apabila mereka ingin membeli makanan tersebut. Sebab lumpia masih dijajakan dengan gerobak dorong.
Sistem itu diteruskan oleh anak dan menantu mereka yang merupakan generasi ke-2 dari dinasti loenpia Tjoa-Wasi, yaitu Tjoa Po Nio dan Siem Gwan Sing. Ketika Tjoa Thag Joe meninggal pada tahun 1930, kendali perusahan beralih tangan pada penerusnya.
Sementara Mbok wasi yang menjanda dalam usia 64 tahun hanya bertindak sebagai penasihat saja. Terutama dalam pengolahan lunpia. Cukup lama dia mampu bertahan selama 26 tahun. Pada tahun 1956, pada usianya yang ke-90 tahun, Mbok Wasi meninggal dunia.
Tjoa Po Nio dan suaminya yang mempertahankan resep asli dari orang tua mereka. Resep itulah yang mereka pertahankan dan lestarikan sebagai warisan dari nenek moyang.
 Bahan :
• Terigu
• Santan
• Rebung
• Telur
• Udang
• Ikan kering
• Bawang merah
• Gula
• Garam
 Cara Pembuatan :
Kulit Lunpia
Santan dimasak terlebih dahulu kemudian diberi sedikit garam
Lalu tepung terigu dan santan, dicampur jadi satu kemudian setelah adonan itu jadi baru kemudian dibuat lembar-lembaran kulit lunpia tersebut
 Isi Lunpia
 Rebung dicuci, direbus.
 Setelah direbus tetap dimasak lagi dicampur dengan telor, udang dan ikan kering
 Adonan/campuran dari rebung, telor, udang dan ikan kering tadi diletakkan di atas lembaran kulit lunpia. Gulung-gulung, tiap ujungnya dilipat. Untuk lunpia basah, setelah digulung-gulung dan ujungnya dilipat, sudah bias untuk disajikan, sedangkan untuk lunpia goreng, setelah digulung-gulung dan ujungnya dilipat, goreng pada minyak panas hingga berubah warna menjadi kecoklatan.
 Saosnya
 Gula Jawa
 Gula Pasir
 Tambahannya
 Acar
 Cabe rawit
 Daun bawang

Senin, 14 Juni 2010

WINGKO BABAD


Wingko babad, dari namanya orang akan segera berfikir ini adalah makanan khas dari babad, kota kecil di Jawa Timur. Awalnya seorang wanita Tionghoa kelahiran Tuban bernama Loe Lan Hwa bersama suaminya The Ek Tjong alias D.Mulyono beserta kedua anaknya mengungsi dari Kota Babad ke Semarang. Sejak kepindahannya ke Jawa Tengah menjelang tahun 1946, mulailah dicobanya untuk memperkenalkan penganan resep keluarganya itu di Semarang.
Merekalah cikal bakal pembuat wingko babad di Semarang (Wingko Babad cap Kereta Api) yang akhirnya sampai saat ini menjadi salah satu makanan khas Semarang.
Berbeda dengan wingko yang ada di kota Babad, wingko yang diproduksi dan dijual di Semarang dibuat dalam ukuran kecil, karena dirasa lebih praktis “cukup untuk sekali santap”. Demi mempertahankan rasa dan kualitasnya, mutu bahan baku mendapat perhatian khusus. Dan agar aman dan sehat untuk dikonsumsi, maka diputuskan untuk tidak menggunakan zat pengawet, zat pewarna, gula buatan, maupun penguat rasa (essence).
Saat ini, wingko tersedia dalam berbagai macam rasa. Antara lain rasa coklat, pisang, durian, nangka, dll.
BAHAN-BAHAN:
Tepung Ketan 125 g
Garam halus ½ sdt
Gula Pasir 100 g
Vanili bubuk ¼ sdt
1 Kelapa setengah tua, kupas, parut memanjang
Air hangat 100 ml

CARA MEMBUAT :
1. Campur tepung ketan dengan kelapa parut, garam dan vanili bubuk, aduk rata.
2. Campur air hangat dengan gula pasir, aduk hingga larut.
3. Tuangkan larutan gula kedalam adonan
4. Dicetak, Taruh di loyang alasi dengan daun pisang, masukkan dalam oven selama 10 menit, angkat dan siap disajikan.

Senin, 07 Juni 2010

ciri folklore

Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.

Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.

Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).

Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi yakni yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).

Kesenian Rakyat



Seni adalah hasil karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik.Di jaman serba modern ini bentuk seni telah memiliki banyak perkembangan dan berbagai macam bentuk aliran ,pandangan dan pengertian.
Dalam berwawasan seni mesti memiliki penentuan pandangan,sikap,pendekatan untuk memahami dan mengerti tentang prinsip-prinsip berkesenian terhadap sebuah karya seni.
Definisi pengertian seni berasal dari istilah sebuah kata art(latin) yang berarti kemahiran/keahlian,di indonesia di ungkapkan sebagai pemujaan terhadap sesuatu dan dalam bahasa jawa di sebut dengan rawit yang berarti ruwet.
Pandangan pengertian seni menurut Ki hajar dewantara adalah segala bentuk perbuatan yang timbul dari perasaan dengan sifat indah yang menggerakan jiwa perasaan,dalam pandangan Ahdian seni merupakan kegiatan rokhani yang merefleksikan realitas ke dalam suatu karya yang memiliki bentuk dan isi untuk membangkitkan pengalaman-pengalaman tertentu ke dalam rokhani para penerima,sedangkan plato reuseu berpendapat bahwa seni tercipta dari hasil peniruan bentuk alam dengan segala seginya,dengan berbagai macam pengertian dan pandangan seni ini dapat di simpulkan seni merupakan suatu perwujudan sebuah bentuk dari hasil cipta-karya-rasa manusia yang di tuangkan dalam bentuk tiruan benda,keadaan alam dan kehidupanya.
Seni terbagi menjadi dua macam bentuk di antaranya : Seni Primitif dan Seni Klasik.
Seni primitif lahir dari bentuk kebudayaan awal suatu adat yang belum mendapat dari luar,seni primitif berpedoman pada aturan-aturan adat dan kaidah yang di wariskan secara turun-temurun.
Seni klasik yaitu sebuah seni yang telah mengalami pengembangan dan penyempurnaan dengan mengolah kaidah sebelumnya.
Dalam perkembanganya seni terbagi dalam dua jenis yaitu seni murni dan seni pakai,seni murni merupakan hasil karya seni yang dapat di nikmati secara langsung,hasil seni ini dalam di nikmati dalam bentuk patung,lukisan,musik,tari dan masih banyak seni-seni lain yang dapat di nikmati secara langsung tanpa menggunakan perantara,sedangkan seni pakai adalah sebuah hasil karya cipta yang sengaja di buat memiliki manfaat bagi kehidupan para pemakai,hasil seni ini di buat untuk mendukung kepentingan/kebutuhan hidup sehari-hari sebagai perlengkapan perabot rumah tangga,busana dan hasil karya lai yang di cipta untuk mendukung kepentingan kebutuhan.
Seni di cipta untuk di nikmati berdasarkan fungsi dan kegunaanya,untuk menikmati sebuah seni di perlukan pengertian terhadap seni itu sendiri,para pujangga berkata Tak Kenal Maka Tak Sayang, maka mengenal dan mengerti seni di butuhkan untuk dapat menerima dan menikmati seni, agar seseorang dapat menilai, menghargai, memanfaatkan dan menempatkan sebuah hasil karya seni dengan tepat sesuai fungsi dan kegunaanya untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan tujuan dan maksud terciptanya sebuah hasil karya seni itu sendiri.
Kesenian rakyat adalah sebuah kesenian yang tumbuh di lingkungan masyarakat pedesaan berlatar belakang sebuah tradisi adat dan budaya yang di wariskan secara turun temurun. Kesenian rakyat telah mengalami banyak perkembangan karena adanya kesadaran masyarakat akan seni dan berkesenian hingga membuahkan karya kesenian rakyat baru dari hasil kreatifitas anggota masyarakat. Seperti halnya sebuah kesenian.

Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak)



Ketoprak adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

ludruk


Ludruk, merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).

Dagelan



Dagelan adalah pertunjukan lawak yang lucu. Kesenian ini bersifat humoris atau menghibur dengan cerita-ceritanya yang lucu dan menggelitik. Kesenian ini biasanya ditanggap pada saat ada acara kondangan atau nikahan. Dagelan juga terdapat dalam babak ketoprak

Wayang Kulit



Wayang kulit yang ada di Salatiga juga berbentuk seperti wayang pada daerah-daerah di Jawa tengah lainnya. Ceritanya juga meliputi Mahabarata, Ramayana, Pandawa-Kurawa.Wayang kulit disajikan dengan diiringi gamelan lengkap dengan waranggana. Untuk cerita wayangnya akan dibawakan oleh dalang, biasanya wayang kulit ini disajikan semalam suntuk sampai fajar menyingsing.

Reog



Kesenian reog ini sama sama dengan kesenian Reog dari Ponorogo, akan tetapi topeng Reog yang digunakan lebih kecil. Reog ini merupakan gambaran dari bibnatang yang berkepala singa bdan berbadan burung merak yang menggambarkan kekuatan yang besar.

Kepercayaan Rakyat



Kepercayaan takyat sering juga disebut takhayul, adalah sejenis mitos yang beredar di masyarakat secara turun- temurun, dan sebagian besar ceritanya dipercaya. Takhayul mencakup bukan saja kepercayaan, melainkan juga kelakuan, pengalaman-pengalaman, ada kalanya juga alat,biasanya juga ungkapan serta sajak (Brunvand, 1968:178).
Takhayul termasuk ke dalam folklore karena merupakan semacam ungkapan tradisional, akan tetapi takhayul berbeda dengan ungkapan tradisional lainnya(seperti bahasa rakyat, peribahasa, teka-teki, sajak,dsb). Takhayul berdasarkan asumsi atas kesadaran atau bukan kesadaran mengenai syarat-syarat dan akibat-akibat dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun asumsi itu tidak ilmiah, aspek kepercayaan takhayul dan aspek perbuatan takhayul sangat luas persebaranya di semua lapisan masyarakat (Brunvand, 1968:178).
Takhayul ini masih banyak dipercayai banyak masyarakat Semarang. Dari observasi yang telah kami lakukan di eks karisidenan semarang ini kami telah mendapatkan beberapa takhayul seperti :

takhayul

 Di dukuh Gribigan di daerah Demak, ada desa yang apabila pejabat lewat situ, ia akan mati atau paling tidak jabatannya turun. Sama di desa Mijen Banteng mati. Sampai sekarang tidak ada yang berani lewat situ. Namun ada juga yang mengacuhkannya. Akan tetapi warga di desa itu sering memberi sesaji agar tidak ada kejadian buruk.

 Di Mutih kulon ada sumur yang dipercaya sakti di dekat Jepara. Dipercaya meyembuhkan sakit penyakit , bisa membantu menambah kekuatan. Banyak masyarakat yang memberikan sesaji juga. Bagi yang kurang percaya kadang mengalami sakit.

 Di desa Ngawen tiap mau menanam padi harus nanggap wayang, kalau tidak , ada perempuan yang datang dan hasil panen kurang memuaskan.

 Di Karanganyar Demak ada cerita anak muda mudi yang meninggal karena terlindas kereta api ,arwahnya menghantui sekitar tempat itu.

 Takhayul atau kepercayaan masyarakat setempat adalah bambu sate. Yaitu bamboo tetapi daunnya berbau sate. Menurut masyarakat setempat, pada waktu dulu ada orang yang menancapkan tusuk sate pada tanah tersebut. Kemudian tusuk sate tersebut tumbuh menjadi pohon bambu yang daunnya berbau sate (prengus).

 Di Desa Bejalen Ambarawa, ada takhayul pada saat diadakan Upacara ngekol, yaitu tidak boleh mengambil sesaji apapun yang ada di dalam prosesi upacara sebelum doa dibacakan oleh juru kunci,walaupun sesaji itu nantinya akan diperebutkan. Warga boleh mengambil sesaji itu setelah upacara selesai, karena kalau warga mengambilnya sebelum upacara selesai orang yang mengambil itu akan menjadi gila.

 Masyarakat mempercayai sebuah takhayul yang menyebutkan bahwa bila ada tamu yang terlalu lama bertamu dan tidak mau segera pulang, maka dapat dipaksa pergi dengan jalan membawa(secara tersembunyi) sebuah alat ulegan (munthu) dihadapanya. Bila hal itu dilakukan maka tamu tersebut akan pulang dengan sendirinya.

 Masyarakat mempercayai bahwa ada hantu yang disebut wewe gombel, yaitu hantu wanita yang suka mengambil pakean dalam yang dijemur dan pada malam hari belum diangkat.

 Di kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat mempercayai apabila dipagi hari berbicara kepada orang lain dan membicarakan hal-hal yang bersifat jelek, maka pembicaraan tersebut akan terjadi. Misal; mengeluh tentang pekerjaan yang membuat malas, kelak hari itu pula akan malas terus dan enggan melakukan apa-apa.

 Di kecamatan Sukorejo, Kendal, masyarakat sekitar mempunyai pantangan jika tidur di tengah pintu, maka akan di beri mimpi buruk atau didatangi makhluk halus.

 Di Kecamatan Plantungan, Kendal, masyarakat percaya jika ada orang yang tidur dengan badan membujur ke utara seperti posisi orang meninggal maka dia akan membujur kaku dan didatangi pocong.

 Di Kecamatan Gunungpati, masyarakat disekitar percaya jika ada jago berkokok sebelum pukul dua belas atau wayah sore ada wanita yang hamil sebelum menikah.

 Di Lawang Sewu Semarang, orang disekitar percaya kalau mengambil foto di sekitar Lawang Sewu tidak boleh bertiga atau berjumlah ganjil, konon akan digenapi oleh makhluk halus.
2. Tari Kuda Debog
Tari kuda debog merupakan tarian khas dari daerah Keji, di daerah Ungaran. Dulunya tarian ini merupakan permainan anak-anak setempat. Kerena pada waktu itu orang tua tidak mampu membelikan mainan, sehingga anak-anak mengambil pelepah daun pisang untuk dijadikan kuda-kudaan dan ditarikan. Tarian ini hampir sama dengan tarian kuda lumping. Hanya yang dijadikan kudanya adalah debog (pelepah pisang).
3. Tarian Keprajuritan
Tarian keprajuritan merupakan tarian yang dimainkan oleh para laki-laki dewasa dengan jumlah pemain bebas. Tarian keprajuritan banyak berkembang di Semarang. Di daerah Ambarawa, keprajuritan disebut juga dengan Soreng, sedangkan di daerah Salatiga disebut dengan Reog. Tarian ini menggunakan kostum prajurit keraton. Tari keprajuritan melambangkan kegagahan dan keberanian seorang prajurit yang sedang berlaga. Gerak tariannya diiringi dengan kempul dan gong. Pada saat tari dipentaskan, ada salah seorang penari yang menjadi pemimpin dalam tarian itu yang membawa peluit yang pada saat-saat tertentu akan ditiup. Dengan ditiupnya peluit tersebut menandakan pergantian gerakan. Pada zaman sekarang tarian ini dimainkan semata-mata untuk hiburan. Biasanya dipentaskan saat warga mengadakan hajatan atau peringatan hari-hari tertentu.

Gb. Tarian Keprajuritan
4. Tarian Kuda Blarak
Tarian ini hampir sama dengan tari kuda lumping, tapi yang menjadi ciri khas adalah kuda yang digunakan untuk menari terbuat dari daun kelapa (blarak). Kuda blarak ini hanya ada di desa Bejalen kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Yang memainkan adalah anak laki-laki. Tarian kuda blarak ini tercipta atas ide kepala dinas kebudayaan dan pariwisata setempat untuk menghidupkan kesenian yang ada di desa Bejalen sejak zaman dahulu. Dulunya anak-anak bejalen biasa mengambil daun kelapa atau blarak untuk bermain kuda-kudaan. Daun kelapa yang masih ada pelepahnya dianyam sehingga membentuk seperti kuda kepang, kemudian dimainkan bersama-sama. Dulu saat memainkannya tidak disertai dengan iringan music, namun hanya dengan nyanyian atau celoteh anak-anak tersebut. Sekarang kuda blarak sudah menggunakan iringan music bila ingin memainkannya.

Gb. Tarian Kuda Blarak
5. Tari Warak Dugder
Menjelang datangnya bulan suci ramadhan, di kota Sedmarang selalu diadakan tradisi Dugderan . dimana tradisi tersebut berasal dari kata Dug dan Der. Dug adalah suara bedhug yang ditabuh atau dipukul oleh Adipati Semarang, sedangkan Der dari suara meriam yang dibunyikan sebagai tanda dimulainya bulan suci ramadhan. Dan saat itulah masyarakat mengadakan arak-arakkan keliling kota dengan menampilkan warak yaitu boneka hewan rekaan beserta manger, serta adanya kerajinan dan mainan gerabah dari tanah liat. Hadirnya tari warak dugder adalah sebagai seni pertunjukan rakyat dengan gerak dan iringan semarangan, serta unsure garap yang terilhami dari berbagai etnis yang bermukim di kota Semarang seperti budaya Cina, Islam, Jawa dan kondisi alam seperti pantai, pegunungan, perniagaan serta berbagai peristiwa budaya lain yang hidup dan berkembang di kota Semarang.

Gb. Tarian Warak Dugder
6. Tari Denok Deblong
Tari denok deblong dalam kehadirannya merupakan nama dari sebuah tari gaya semarangan versi greget, yang terilhami oleh keberadaan alam kota Semarang yang memiliki pegunungan, perkotaan serta pantai dengan berbagai pengaruh kebudayaan baik dari Cina, Islam, Portugis, dll, seni klasik serta peristiwa budaya masyarakat Semarang, baik tata gerak rias dan busana. Denok yang berarti sebutan khas bagi remaja putrid kota Semarang, sedangkan Deblong adalah kata yang diucap oleh ibu atau biyung kepada anak perempuan ketika ditimang. Bermakna baik, yaitu tentang kecantikan, kepandaian dan sebuah harapan agar momongannya jadi putri yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negaranya.
7. Tari Satria Yaksa
Bentuk tari klasik Jawa Tengah ini diangkat dari salah satu fragmen pada pertunjukkan wayang orang yang mengisahkan tentang perjalanan seorang satria ketika bertemu dengan raksasa atau cakil dimana hal tersebut merupakan sebuah penggambaran tentang tujuan baik kadang harus menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang harus teratasi. Dalam sajiannya, tarian ini sebagai patuladan bahwa sifat yang baik selalu unggul dari kedengkian dan kejahatan.
8. Tari Kuda Lumping
Yaitu tarian dengan menggunakan kuda dari kepang (bambu) yang diiringi oleh alat music gamelan. Tarian ini terdapat di seluruh eks karisidenan Semarang.
9. Tari Gambang Semarang
Tarian ini merupakan jenis tarian yang baru yang berkembang di Semarang.
Tarian ini biasanya ditarikan oleh pasangan muda-mudi. Gerak tarinya bersifat spontan dan menampilkan improvisasi dari para penarinya. Terdapat unsure kecinaan dalam tarian ini.laras gamelanya hamper sama dengan laras slendro yang telah dimodivikasi. Instrument yang digunakan antara lain kendang ketipung, boning barung, kempul, kecrek, rebeb, suling, trompet. Gambang semarang berfungsi sebagai tari pergaulan untuk hiburan pada waktu pesta perkawinan atau acara pesta lainya.
10. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah salah satu tarian yang turut memeriahkan acara grebeg besar di Kabupaten Demak. Disajikan sebelum acara penjamasan dan sesaat setelah laporan Lurah Tamtama kepada Bupati. Jumlah penari sembilan orang wanita, dihubungkan dengan simbol jumlah sembilan wali di Jawa, selain itu juga berkaitan dengan makrokosmos dan mikrokosmos ( alam raya dan isinya ). Tari Bedhaya Tunggal Jiwa ini dipentaskan dalam waktu kurang lebih 15-20 menit.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hanya berperan untuk memberikan warna baru dan sebagai aset pariwisata. Sehingga fungsi dari Tari Bedhaya Tunggal Jiwa adalah sebagai upaya pengembangan yang diharapkan dapat menopang kebudayaan tradisonal. Sedikit penjelasan tersebut diatas dapat kita ketahui bawa tari Bedhaya Tunggal Jiwa mengalami proses yang sama, yaitu adanya perkembangan – perkembangan dalam setiap kali pementasan. Dari perkembangan tersebut mengakibatkan adanya perubahan yang mempunyai pengertian menuju ke arah kemajuan ataupun kualitas dari hasil kreatifitas seni. Perkembangan yang ada ini tidak hanya pada perkembangan struktur gerak namun lebih pada ide pokok pemikiran yang pada akhirnya akan dapat membawa nama baik maupun identitas dari masyarakat Demak. Melalui perkembangan ini dimunculkan nama, bentuk, warna kostum dan pola lantai maupun hitungan alur gerak. Sehingga tersusunlah nama tari yang dulunya dari Bedhaya Tunggal Jiwa menjadi Bedhaya Santi Mulyo. Dimana tarian tersebut sama sekali tidak terkait dengan proses ritual yang tradisi namun lebih mengacu pada nilai – nilai yang terkandung dalam proses ritualitas masyarakat Demak khususnya acara Grebeg Besar di Demak.
Dari beberapa aspek tersebut terdapat suatu fenomena yang menarik untuk mengungkap proses kreatif yang mempengaruhi munculnya penciptaan Bedhaya Tunggal Jiwa. Tarian tersebut muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya TunggalJiwa.
Tari Bedhaya Tunggal Jiwa hadir dalam Grebeg Besar dan sesuai dengan tujuan penyusunan tari ini untuk memberikan warna baru dalam Grebeg Besar Demak. Gerak dan karakter yang dibawakan oleh penari adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Disertai dengan motif gerak peralihan srisig, kengser, sindhet, ukel karno dan lain sebagainya. Rias wajah yang digunakan yaitu rias cantik dengan kostum dodot alit. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa dalam penyajiannya tetap menggunakan tasbih sebagai properti disamping sebagai simbol alat berdzikir bisa juga sebagai alat penangkal bala atau godaan setan.
11. Tari Jipin
Jipin bergandengan dengan rebana jumlah menurut situasi tempat. Berfungsi sebagai komunikasi dengan masyarakat. Dilakukan saat ada perayaan, sunatan, sedekah bumi. Dilakukan oleh remaja masjid.
12. Tari Bondan
Tari Bondan adalah tarian yang menggunakan boneka dan payung, tarian ini menggambarkan seorang ibu yang sedang menggendong dan merawat ‘ngemi-ngemi’ anaknya.
Tari Gendot
Tari gendot merupakan salah satu tarian khas di kabupaten Kendal, tepatnya di desa manggungmangu kecamatan Plantungan. Di daerah ini tarian gendot dilakukan ketika ada upacara-upacara adat tertentu dan pesta-pesta. Seperti ketika upacara Nyadran Deso, dalam upacara ini tarian Gendot disajikan bertujuan untuk menghormati roh leluhur atau roh penunggu di tempat-tempat tertentu di kecamatan Plantungan. Tarian ini juga diadakan ketika pesta-pesta, seperti pesta pernikahan. Di dalam pesta pernikahan, tarian disajikan setelah upacara pernikahan selesai. Tepatnya sebagai hiburan para tamu undangan dan keluarga.
Tari gendot terdiri dari 3 atau lebih penari, penari disini semuanya wanita. Dalam tarian ini diiringi gamelan sederhana yang dimainkan oleh 3 atau lebih orang. Selain upacara dan pesta-pesta, tarian ini juga dapat dijadikan sebagai lahan pendapatan masyarakat di desa Manggungmangu kecamatan Plantungan. Pada waktu-waktu tertentu, sekelompok penari berjalan mencari seorang yang mau membayarnya. Dalam hal ini penari hanya memberikan paket jam. Setelah paket habis, penari beserta kelompoknya mencari orang lagi yang mau nanggap.